Creative Day Fakultas Kewirausahaan UNIGA : Saat Mahasiswa Buktikan Diri Sebagai Wirausahawan Sesungguhnya

Garut 27 Januari 2026 — Fakultas Kewirausahaan Universitas Garut (UNIGA) menggelar Creative Day, sebuah program pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang menempatkan mahasiswa bukan sekadar sebagai pelajar, tetapi sebagai pelaku bisnis nyata. Sebagai puncak dari proses perkuliahan sekaligus bentuk Ujian Akhir Semester (UAS), mahasiswa ditantang untuk merancang, mengelola, dan menyelenggarakan event bisnis secara mandiri dari nol hingga terlaksana.

Hasilnya? Tiga event kreatif yang sarat nilai kewirausahaan berhasil lahir dari tangan-tangan inovatif mahasiswa Fakultas Kewirausahaan UNIGA: CakePerience, ScentedCandle, dan Paspunda. Masing-masing event tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bisnis yang sesungguhnya — mulai dari perencanaan konsep, pengelolaan anggaran, strategi pemasaran, hingga eksekusi di hadapan publik.


CakePerience: Ketika Kue Menjadi Kanvas Ekspresi

CakePerience adalah event bertema pengalaman kuliner kreatif yang mengajak peserta untuk menggambar dan berkreasi di atas kue (cake decorating experience). Konsep ini memadukan dunia food art dengan ekonomi pengalaman (experience economy), sebuah pendekatan bisnis yang semakin diminati pasar, terutama di kalangan generasi muda yang haus akan aktivitas yang unik, instagramable, dan bernilai kenangan.

Dalam event ini, peserta tidak sekadar menikmati kue, melainkan terlibat aktif dalam proses mendekorasinya menggunakan berbagai media seperti edible marker, krim warna, dan elemen dekoratif lainnya. Setiap karya yang dihasilkan adalah ekspresi unik dari masing-masing peserta, menjadikan setiap kue sebuah mahakarya personal.

Dari sisi bisnis, CakePerience melatih mahasiswa untuk memahami cara memonetisasi kreativitas melalui model bisnis berbasis pengalaman. Mahasiswa belajar mengelola bahan baku, menentukan harga tiket yang kompetitif, menciptakan atmosfer event yang menarik, serta membangun koneksi emosional antara produk dan konsumen — keterampilan yang sangat relevan dalam industri kuliner kreatif masa kini.


ScentedCandle: Bisnis Sensorik yang Menyentuh Jiwa

ScentedCandle adalah event kreatif yang menghadirkan pengalaman membuat produk lifestyle handmade, meliputi lilin aromaterapi (scented candle), aksesori manik-manik, dan berbagai produk kerajinan tangan lainnya. Event ini merespons tren pasar yang terus berkembang, di mana produk self-care dan dekorasi rumah berbasis aroma tengah menjadi primadona di kalangan konsumen muda urban.

Peserta event diajak untuk langsung mempraktikkan pembuatan lilin beraroma dengan pilihan wewangian dan tampilan yang bisa dikustomisasi sesuai selera. Proses kreatif ini mencakup pemilihan bahan baku seperti lilin soy wax, fragrance oil, sumbu, hingga elemen dekoratif seperti bunga kering dan manik-manik yang mempercantik tampilan produk akhir.

Lebih dari sekadar kegiatan kerajinan, ScentedCandle mendidik mahasiswa tentang cara membangun bisnis produk lifestyle yang bernilai tinggi. Mulai dari riset tren, pemilihan bahan berkualitas, penentuan identitas merek, pengemasan yang estetis, hingga strategi pemasaran di media sosial — semua menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terintegrasi. Event ini membuktikan bahwa produk sederhana yang dikerjakan dengan kreativitas dan strategi bisnis yang tepat dapat memiliki nilai jual yang sangat kompetitif di pasar.


Paspunda: Kompetisi Pupuh Sunda yang Mengawinkan Budaya dan Bisnis

Paspunda (Pasanggiri Pupuh Sunda) adalah event kompetisi seni budaya Sunda yang mengangkat kembali warisan leluhur, yaitu Pupuh, ke panggung generasi muda. Pupuh adalah karya sastra tradisional Sunda berbentuk puisi yang dinyanyikan (tembang), memiliki aturan tersendiri dalam hal rima, jumlah suku kata (guru wilangan), serta karakter dan nuansa (watek) yang khas dari setiap jenisnya. Terdapat 17 jenis Pupuh dalam khazanah sastra Sunda, antara lain Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula, masing-masing membawa rasa dan pesan yang berbeda.

Dalam Paspunda, mahasiswa tidak hanya menjadi penyelenggara kompetisi, tetapi juga menjadi “penghubung” antara seni tradisional dan dunia bisnis modern. Event ini dikemas secara profesional layaknya kompetisi seni berskala besar, mulai dari sistem pendaftaran peserta, penjurian, pengelolaan venue, promosi, hingga apresiasi kepada pemenang.

Dimensi kewirausahaan dalam Paspunda terletak pada kemampuan mahasiswa mengidentifikasi nilai ekonomi yang tersimpan dalam kekayaan budaya lokal. Di era creative economy, konten berbasis kearifan lokal justru memiliki daya tarik tersendiri — baik sebagai produk hiburan, identitas merek, maupun destinasi pariwisata budaya. Paspunda menjadi bukti bahwa seorang wirausahawan muda Sunda mampu mencintai budaya leluhurnya sekaligus menjadikannya sebagai peluang bisnis yang nyata dan berkelanjutan.


Creative Day: Laboratorium Wirausaha yang Sesungguhnya

Ketiga event tersebut adalah cerminan dari filosofi pembelajaran di Fakultas Kewirausahaan UNIGA, bahwa ilmu kewirausahaan tidak cukup dipelajari dari buku teks dan presentasi di kelas. Melalui Creative Day, mahasiswa dihadapkan pada tantangan nyata: bagaimana mengubah sebuah ide menjadi event yang dihadiri orang banyak, menghasilkan pendapatan, dan memberikan pengalaman yang berkesan bagi setiap peserta.

Proses ini melatih mahasiswa secara holistik — dari jiwa leadership dan kerja tim, kreativitas dalam mengonsep produk, ketangkasan dalam manajemen waktu dan anggaran, hingga keberanian dalam memasarkan dan menjual. Creative Day bukan sekadar penilaian akhir semester, melainkan simulasi dunia wirausaha yang paling mendekati realita: penuh tantangan, penuh belajar, dan penuh kebanggaan saat berhasil.